PERKUAT PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES UNTUK TINGKATKAN PRODUKTIVITAS JAGUNG
Pasuruan, 29 Juli 2026 – Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) merupakan program Kementerian Pertanian yang didukung oleh Bank Dunia untuk memperkuat pengelolaan kawasan dan pengembangan rantai nilai komoditas pertanian secara berkelanjutan dan inklusif. Dalam upaya meningkatkan kapasitas petani, BRMP Jawa Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Jagung Cerdas Iklim di Gedung KDMP Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, yang diikuti oleh 257 petani jagung.
Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Wonorejo, Mufida, S.P., mengajak peserta memanfaatkan bimbingan teknis sebagai bekal untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Sementara itu, Rika Asmita, S.P., M.Sc., selaku Ketua Kelompok Penerapan dan Penilaian Kesesuaian BRMP Jawa Timur, memperkenalkan Program ICARE beserta pengembangan koperasi binaan sebagai upaya memperkuat kelembagaan petani. Ia juga menegaskan pentingnya penerapan budidaya cerdas iklim agar petani mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Bimbingan teknis yang dimoderatori oleh Ratih Kusumasari Ndaru, S.P. menghadirkan dua narasumber, yakni Ardiansyah, S.ST. dengan materi Budidaya Jagung Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) serta Athena Ilda Novanti, S.P. yang menyampaikan materi pengenalan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Dalam pemaparannya, Ardiansyah menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas jagung perlu didukung penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang dipadukan dengan konsep Climate Smart Agriculture (CSA). Petani didorong menggunakan benih unggul tahan OPT, menerapkan pemupukan berimbang, memanfaatkan pupuk organik, biochar, dan biokompos, serta menerapkan sistem tanam Zig-zag Super yang mampu meningkatkan populasi tanaman hingga sekitar 153 persen dibandingkan sistem tanam biasa. Pengelolaan pengairan, konservasi air, dan pengendalian gulma juga menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas jagung yang berkelanjutan.
Pada sesi berikutnya, Athena Ilda Novanti menjelaskan pentingnya deteksi dini hama dan penyakit melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Hama utama yang perlu diwaspadai antara lain ulat grayak Fall Armyworm (FAW), penggerek batang, penggerek tongkol, lalat bibit, ulat tanah, dan tikus, sedangkan penyakit utama meliputi bulai, hawar daun, busuk batang, karat daun, dan gosong bengkak. Pengendalian dilakukan melalui penggunaan varietas tahan, sanitasi lahan, pemanfaatan agens hayati seperti Trichoderma sp., rotasi tanaman, serta penggunaan pestisida sesuai ambang pengendalian.